Pada tahun 1867, Rusia menjual Alaska pada Amerika Serikat senilai 7,2 juta dolar AS. Hanya dalam waktu 50 tahun kepemilikan wilayah tersebut, Amerika mendapatkan untung 100 kali lebih besar dibandingkan harga pembelian Alaska. Bagaimana para pejabat kekaisaran bisa melewatkan “harta terpendam” itu? Pada kesempatan ini kami akan meluruskan ketidakjelasan sejarah penjualan Alaska tersebut.
Pembelian Alaska adalah pembelian Alaska oleh Amerika Serikat dari Kekaisaran Rusia tahun 1867. Pembelian ini menambah luas wilayah Amerika Serikat sebesar 586.412 mil persegi (1.518.800 km²).
Rusia saat itu sedang berada dalam posisi finansial yang sulit dan takut kehilangan Alaska Rusia tanpa kompensasi (terutama terhadap Britania Raya, musuh mereka dalam Perang Krim). Tsar Alexander II memilih menjual Alaska. Rusia menawarkan Alaska pada Amerika Serikat tahun 1859. Namun, Perang Saudara Amerika meletus.Setelah Perang Saudara Amerika berakhir, Tsar menginstruksikan menteri Rusia untuk Amerika Serikat Eduard de Stoeckl untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Negosiasi dimulai pada Maret 1867, dan Amerika setuju untuk membeli Alaska dengan harga $4.74/km2, total $7.200.000. Pembelian ini terbukti berguna bagi Amerika Serikat karena penemuan kandungan minyak bumi yang besar di Alaska.
Petisi penyatuan kembali Alaska ke Rusia yang
terpampang di situs resmi “White House” telah ditandatangani lebih dari
35 ribu orang. Banyak orang hingga saat ini menganggap Amerika Serikat
telah mencuri Alaska dari Rusia atau menyewa wilayah itu tetapi tidak
mengembalikannya. Berbeda dengan mitos-mitos yang ada, sebenarnya
transaksi tersebut dilakukan dengan adil, kedua belah pihak memiliki
alasannya sendiri untuk mewujudkan transaksi tersebut.
Alaska Menjelang Penjualannya
Pada abad ke-19, Alaska adalah pusat perdagangan
internasional. Di dalam ibukota Alaska, Novoarkhangelsk (sekarang
bernama Sitka), orang-orang berjualan kain dari Cina, teh, bahkan es,
yang masih dibutuhkan oleh bagian selatan Amerika Serikat sebelum
ditemukannya pendingin buatan. Di sana ada pula pembuatan kapal dan
pabrik, serta tambang batu bara. Diketahui pula bahwa di sana terdapat
cadangan emas yang berlimpah. Tentu saja keputusan menjual daerah ini
sangatlah tidak rasional.
Para pedagang dari Rusia sangat tertarik dengan komoditas taring anjing laut
dan kulit bulu berang-berang laut, yang bisa dibarter dengan suku
pribumi. Waktu itu harga taring anjing laut tidak kalah dengan gading
gajah. Perusahaan Rusia-Amerika (PRA) yang menjalankan bisnis tersebut.
Di belakang perusahaan itu berdiri orang-orang yang berani cenderung
nekat, yaitu pebisnis Rusia abad-18, para pengembara sejati dan juga
para spekulan dan pedagang. Semua perdagangan dan sumber daya alam
adalah milik perusahaan tersebut, dan perusahaan itu dapat membuat
perjanjian dagang dengan negara lain secara langsung, memiliki
benderanya sendiri, serta mata uang sendiri yang terbuat dari kulit
binatang.
Semua hak istimewa itu diberikan perusahaan kepada
Kekaisaran Rusia. Kekaisaran mengambil pajak yang sangat besar dari
perusahaan tanpa mengambil peran di dalamnya. Para kaisar dan
keluarganya masuk ke dalam jajaran pemegang saham Perusahaan
Rusia-Amerika (PRA) tersebut.
Pizarro Rusia
“Pemimpin utama” masyarakat Rusia di Amerika saat itu
adalah seorang pedagang yang penuh talenta, Aleksandr Baranov. Ia
membangun sekolah dan pabrik, mengajarkan cara menanam lobak dan kentang
kepada suku pribumi, mendirikan benteng dan galangan kapal, serta
memperluas perdagangan berang-berang laut. Baranov menyebut dirinya
sendiri sebagai “Pizarro Rusia” dan terikat ke Alaska tidak hanya
sebagai sumber penghasilan, tetapi juga hatinya, di mana ia menikahi
anak kepala suku Aleut.
Pada masa kepemimpinan Baranov, PRA memberi
penghasilan yang sangat besar. Keuntungannya lebih dari 1.000 persen.
Saat Baranov menjadi sangat tua lalu pensiun, ia digantikan oleh Kapten
Hagemeister yang membawa serta orang-orang militer ke dalam jajaran
pemilik saham dan juga pekerja. Sesuai dengan peraturan, setelah itu
perusahaan hanya boleh dipimpin oleh tentara angkatan laut. Para
penguasa tersebut dengan cepat menguasai semua bisnis yang menguntungkan
di tangannya, tetapi hal tersebut juga menempatkan PRA di ujung tanduk.
Uang Panas
Penguasa baru menentukan sendiri upah yang selangit.
Tentara tingkat bawah mendapatkan 1.500 rubel per tahun saat itu,
sebanding dengan gaji menteri dan senator. Sementara pemimpin perusahaan
mendapatkan 150.000 rubel. Harga pembelian komoditas kulit warga
setempat diturunkan dua kali lipat. Hasilnya, dalam waktu 20 tahun
setelah itu, suku Eskimo dan Aleut hampir memburu semua berang-berang
laut yang ada, menghabiskan komoditas perdagangan paling menguntungkan
itu di Alaska. Suku pribumi menjadi miskin dan memberontak, yang ditekan
oleh Rusia yang menembaki desa-desa suku pribumi di pinggiran perairan
dari kapal-kapal perang Rusia.
Para tentara berusaha menemukan sumber penghasilan
yang lain. Maka dimulailah perdagangan es dan teh, yang juga tidak dapat
diatur secara bijaksana oleh para pebisnis. Mereka tidak ingin
menurunkan gaji mereka sendiri. Akhirnya PRA pun diberikan subsidi oleh
negara sebesar 200.000 rubel per tahun. Sayangnya hal tersebut juga
tidak membantu.
Ketegangan antara Moskow dan London terus meningkat, sedangkan hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat
menjadi paling kelam dari yang pernah ada. Ide penjualan Alaska muncul
praktis secara bersamaan di benak Rusia dan Amerika Serikat. Baron
Edward de Stoeckl, utusan Rusia di Washington, atas titah Kaisar
melakukan negosiasi dengan Sekretaris Negara Amerika Serikat, William H.
Seward.
Bendera Rusia yang Tidak Ingin Diturunkan
Waktu para pejabat menyepakati penjualan Alaska,
opini masyarakat dari kedua negara malah menentang hal tersebut.
“Bagaimana kami menyerahkan tanah yang dikembangkan dengan penuh
pengorbanan tenaga dan waktu, tanah yang dilewati oleh telegram dan
banyak ditemukan tambang emas?” tulis koran-koran Rusia. “Untuk apa
‘peti es’ dan 50 ribu orang Eskimo liar yang minum lemak ikan sebagai
sarapan itu bagi Amerika?”, keluh pers Amerika. Tidak hanya mereka,
Senat dan Kongres pun menentang keputusan tersebut.
Pada 30 Maret 1867, perjanjian jual beli 1,5 juta hektar
tanah milik Rusia di Amerika Serikat seharga 7,2 juta dolar AS telah
ditandatangani di Washington. Jumlah tersebut murni hanya sebagai simbol
saja. Bahkan tanah terbuang di Siberia pun tidak dijual semurah itu. Tetapi situasi saat itu sangat kritis, bahkan bisa saja Rusia tidak mendapatkan apa-apa.
Penyerahan resmi wilayah itu dilaksanakan di
Novoarkhangelsk. Tentara Amerika dan Rusia berbaris di sekitar tiang
bendera. Bendera Rusia diturunkan sambil diiringi penghormatan senapan.
Tetapi bendera tersebut terbelit dan tersangkut di tiang. Seorang pelaut
harus memanjat tiang itu dan melemparnya ke bawah, tetapi bendera tanpa
sengaja mendarat tepat di ujung bayonet tentara Rusia. Pertanda buruk!
Setelah itu Amerika mulai menduduki bangunan kota yang diganti namanya
menjadi Sitka. Ratusan warga Rusia yang memutuskan tidak menerima
kewarganegaraan Amerika Serikat, terpaksa harus dievakuasi menggunakan
kapal dagang dan sampai ke tanah air di tahun selanjutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kalau Mau Komentar Yang Baik Ya :)
Menggunakan Kata2 Kasar Akan Saya Hapus !!